Membuka Hati Yang “TERKUNCI” Dengan Al-Qur’an

Membuka Hati Yang “TERKUNCI” Dengan Al-Qur’an

Barang siapa yang menyibukkan diri dengan ketaatan, dirinya akan susah terjerumus dalam kemaksiatan. Adapun orang yang dirinya kosong maka akan mudah terjerumus dalam kemaksiatan.

Betapa banyak yang membaca Al-qur’an tapi Al-quran melaknatnya. Karena apa? Karena mereka hanya membaca saja, tanpa mentadabburinya. Allah ta’ala berfirman,
ketahuilah laknat Allah bagi orang yang zholim


Maka sekali lagi, hendaklah kita membaca Al-qur’an maka kita juga berusaha untuk meresapi Al-qur’an agar kita bisa mengamalkannya.
Maha suci Allah, betapa kerasnya hati kita, ketika kita membaca kalamullah kita tidak tahu apa-apa. Tidak merasakan apa-apa. Kunci apakah yang ada pada hati kita, nasehat sudah di berikan, pengajaran sudah di dengar, surah-surah sudah dibaca, tapi hati itu adalah seperti sekedar pengumuman, yang masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri.

Tidak demikian dengan seorang muslim yang mentadaburi al-qur’an.
Siapa diantara kita yang menangis membaca surah al-haqqoh, siapa diantara kita yang hatinya bergetar membaca surah al-zalzalah?

Siapa diantara kita yang bertaubat ketika membaca surah al-qiyamah?
Subhanallah… Dosa apa yang ada pada hati kita? Apakah hati kita lebih keras daripada batu?
.
Ada seorang perampok yang ingin merampok di sepertiga malam, lalu ia mendengar ada nenek tua yang membaca Al-qur’an. Dalam ayat itu disebutkan tentang orang yang hatinya keras.
Namanya ia orang Arab jadi ia tahu artinya. Kemudian Allah memberikannya hidayah. Ia meresapi dan merenungi ayat itu. Bukan hanya sekedar mendengar. Setelah ia mendengar perempuan itu membaca Al-qur’an ia mengatakan sekarang aku akan bertaubat.
Maka perampok itu yang bernama fudhoih bin ‘iyadh itu bertaubat dan sekarang ia menjadi alim ulama yang terkenal yang tadinya mantan perampok. Jadi tidak ada yang namanya masa lalunya buruk.
Masa lalu buruknya sudah itu menjadi masa lalu yang di tinggalkan. Sekarang mendapat hidayah dan ia berubah, dan berusaha istiqomah, dan pelihara hidayah Allah tersebut.

Lantas bagaimana cara mentadaburi al-qur’an?

1. Ikhlas dalam mentadaburi al-qur’an.

  • Sebab ikhlas merupakan asas diterimanya suatu ibadah. Seseorang tidak akan mendapat manfaat membaca al-qur’an jika tidak ikhlas.
  • Allah ta’ala berfirman dalam asy-syuro ayat: 20
    .
    مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ ۖ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ نَصِيب
    ..

    Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat
    _
  • Begitu pula rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda,
    Barangsiapa yang mencari suatu ilmu yang seharusnya diniatkan untuk mendapatkan Ridho Allah, namun ia niatkan untuk kesenangan diantara kesenangan dunia, dan tujuan diantara tujuan dunia Maka diakhirat dia tidak akan mendapatkan aroma syurga . Ketika seseorang tidak ikhkas dan mempunyai niat bukan karena Allah maka dia berdosa.
    .

2. Mengagungkan dan mencintai Allah.

  •  Ketika hati kita mengagungkan Allah, takut kepada Allah dan mencintai Allah. Maka kedudukan al-qur’anpun akan menjadi agung dihati kita.
  • Bagaimana caranya kita mengagungkan Allah. Dengan mengagungkan Al qur’an dan mencintai Al qur’an. Diantara tanda Cinta kepada Allah ta’ala adalah kita mencintai apa yang Allah ciinta, dan mencintai kalam-Nya.
  • Utsman bin affan berkata, “Jika hati kita bersih dan suci, niscaya kita akan kenyang, tak akan puas membaca Al qur’an.

 3. Menghadirkan Hati.

  • Tidaklah orang tersebut-tidak menjadi ni’mat selain orang yang merasa niknat mentadabburi al qur’an. Karena saling berkaitan, orang yang mencintai Allah berarti dia mengagungkan Al qur’an. Orang yang mengagungkan al qur’an berarti dia mencintai Allah.
    Al quran adalah peringatan. Hanya orang yang punya hati, telinganya menyimak dan mendengarkan.

Ulama salaf berkata. Ketika aku merenungi satu ayat al qur’an lebih baik dari membaca al qur’an sehari semalam.

 4. Taubat dan menjauhi maksiat

  • Al mutaffaqun alaih. Sekali seorang berbuat dosa maka dia hatinya ada setitik noda hitam dan semakin banyak berbuat dosa titik itu akan menjadi banyak dan menutupi hati. Kemudian hati tersebut menjadi mati. Orang yang hatinya sakit karena melakukan maksiat maka dia adalah orang yang paling jarang mentadaburi al qur’an.
    Sebab al qur’an adalah cahaya, dan cahaya Allahﷻ tidak akan diberikan kepada orang yang berbuat maksiat.
  • Kita harus menjaga sarana mentadaburri al qur’an. Yaitu, hati, pendengaran, dan lisan. Hendaknya sarana-sarana tadabbur ini dengan menjauhi maksiat.
  • Bagaimana bisa seseorang mentadabburi sedang hatinya mendengar serulingnya syaiton. Atau dengan lisan yang diisi dengan namimah, dan ghibah.
  • Al qur’an seperti hujan, bermanfaat pada taman- taman yang subur. Begitu pula al qur’an akan bermanfaat pada hati yang sehat dan subur.
  • Air hujan tidak akan bermanfaat jika jatuh pada keramik. Begitu pula mendengarkan musim adalah hal yang paling berharga dan mentadaburi al qur’an. Sebab al qur’an dan nyanyian tidak akan bersatu dalam hati.
  • Qur’anya syaithon adalah musik dan lagu tidak akan berkumpul dengan al qur’an Allah dalam satu hati. Dan nyanyian juga merupakan jampi-jampi zina.

5. Membaca kitab-kitab tafsir

 Tafsir-tafsir ini adalah menerjemahkan makna dan maksud Al qur’an.
Diantara buku tafsir yaitu :

  1. Tafsir Ibnu Katsir
  2. Tafsir As sa’di
  3. Tafsir Aisar At-takasir
  4. Tafsie Abwa Al bayan
  •  Karena tadabur tidak akan mungkin jika kita tidak paham dengan apa yang dibaca. Sebagian orang berbuat kesalahan. Dengan menafsirkan tanpa ilmu. Maka ini adalah kesalahan.

 6. Memilih tempat dan waktu yang sesuai untuk tadabbur.

  • Yaitu ketika waktu istirahat, kemudian ketika hati sedang tenang, dan ketika tidak berisik. Adapun tempat tidak mesti di masjid. Dimana saja bisa terpenting tidak ada kemungkaran didalamnya. Seperti alat musik, lukisan dipajang dan tidak ada anjing dan lonceng-lonceng.
  • Kapan waktu yang sesuai ketika mentadaburi Al-qur’an? Yakni ketika sedang sholat. Istirahatnya orang mukmin adalah dengan sholat.
  • Sebagaimana Allah ta’ala berfirman dalan surat Al isra : 78
    أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

    Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)
    Disetiap bacaan sholat kita mentadabburinya.

     7. Memilih kadar yang sesuai untuk mentadabburi al-qur’an.

    Sesuai dengan kemampuan. Misal kita mampu 3 ayat tidak usah dipaksa untuk mentadabburi satu juz.
    Dan tadabburi dengan tartil.

    8. Terus menerus membaca al-qur’an jangan jauhi al-quran.

    Allah ta’ala berfirman dalam surah al-furqon ayat:30

    وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
    .
    “Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhka
    n” Rosulullah shalalalhu alaihu wa sallam bersabda, “Tidak boleh iri kecuali dua hal yaitu iri kepada orang yang hafal Al qur’an, yang membaca pagi, siang dan malam, dan yang akhlaqnya seperti al qur’an.
    .
    وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

 

 “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” (Thoha: 124)

Kita memohon kepada Allohﷻ yang agung, semoga Allah memberi kesempatan kepada kita agar bisa mengamalkan Al qur’an. Karena hanya Allah yang berkuasa terhadap hal tersebut. Aamiin.
.
با رك الله فيكم

Oleh: Tazkiatul Choiriyah

*“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka baginya ada pahala yang sama dengan pahala orang yang mengikutinya dan tidak dikurangi sedikitpun juga dari pahala-pahala mereka.”* (HR Muslim no. 2674)_

Sumber : assunahsalafushshalih

Comments

comments

Leave a Reply